Notification

×

Iklan

Iklan

Rektor IAIH Pancor Tekankan Persatuan, Akhlak, dan Makna Ilmu dalam Seminar Internasional di Thailand

Minggu, 18 Januari 2026 | Januari 18, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-19T07:24:44Z


kpiiaihpancornews.com - Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA, menyampaikan gagasan tentang persatuan umat, akhlak Islam, dan hakikat ilmu pengetahuan dalam sebuah seminar ilmiah yang digelar di Dawood Conference Room, Attarkiah Islamiah Institute, Thailand,


Seminar diawali dengan ucapan penuh kehangatan dari Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA. yang mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT serta menyampaikan penghormatan kepada para ulama, sarjana, dan pemimpin yang hadir. Dalam kesempatan tersebut, beliau secara khusus menyebut kehadiran Sheikh Babu Hussien sebagai bentuk penghormatan, serta mengenang jasa Dr. Faisal sebagai guru yang telah memberikan pengaruh penting dalam perjalanan intelektualnya.


Dalam pemaparannya, Rektor IAIH Pancor Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA. menguraikan bahwa hubungan antarmanusia sejatinya tidak ditentukan oleh kedekatan fisik, melainkan oleh keselarasan hati, pemikiran, dan visi.


"Pengalaman saya bersama Dr. Faisal dan beberapa tokoh lain yang, meskipun baru bertemu, telah merasakan ikatan batin yang kuat. Hal ini, sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang persatuan hati di antara manusia," ucap TGB sekaligus sebagai Ketua Umum PB NWDI dan Ketua OIA Al-Azhar Indonesia (19/01/2026).


Ia juga menegaskan pentingnya persatuan umat Islam lintas negara. Ia menyampaikan bahwa perbedaan geografis dan budaya tidak seharusnya menjadi penghalang,


"Persamaan iman dan tujuan jauh lebih besar. Oang-orang beriman adalah saling bersaudara dan saling menguatkan, baik di Indonesia, Thailand, maupun di belahan dunia lainnya," ungkapnya.


Lebih lanjut, ia menekankan nilai ta’awun atau saling menolong sebagai fondasi peradaban Islam. Menurunya kemajuan Islam pada masa lalu tidak terlepas dari semangat pelayanan, kolaborasi, dan kesediaan untuk saling melengkapi dalam ilmu dan amal.


"Nilai ta’awun atau saling menolong sebagai fondasi peradaban Islam yang masih relevan untuk terus dihidupkan dalam konteks masyarakat modern," sebutnya.


Dalam salah satu refleksinya, ia menyoroti makna etika Islam yang tercermin dalam penghormatan kepada tamu, termasuk simbolisasi pemutaran lagu kebangsaan Indonesia sebelum lagu kebangsaan Thailand.


"Pemutaran lagu kebangsaan Indonesia sebelum lagu kebangsaan Thailand sebagai perwujudan ajaran Islam yang menempatkan adab dan perbuatan nyata di atas sekadar retorika. Kebaikan yang diwujudkan melalui tindakan mampu diterima secara universal, melampaui sekat agama dan budaya," katanya.


Ia juga menegaskan bahwa dakwah Nabi Muhammad SAW lebih banyak ditunjukkan melalui keteladanan akhlak dibandingkan ceramah verbal.


"Sebagian besar kehidupan Nabi diisi dengan praktik akhlak mulia yang konsisten, sementara penyampaian lisan dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan agar pesan tetap membekas," tegasnya.


Ia juga mengulas metode dakwah Rasulullah di Madinah yang sederhana namun efektif, seperti membiasakan salam, berbagi makanan dengan tetangga, menjaga silaturahmi, serta menghidupkan ibadah malam.


"Dakwah Rasullah yang efektif di Madinah, seperti membiasakan salam, berbagi makanan dengan tetangga, menjaga silaturahmi, serta menghidupkan ibadah malam. Nilai-nilai tersebut dinilai mampu membangun masyarakat yang harmonis dan penuh kepedulian sosial," paparnya.


Dalam konteks keilmuan, ia menjelaskan bahwa ilmu dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan teori. Ia memaparkan tiga tahapan ilmu, yaitu ad-dhilawatu (membaca dan mencari pengetahuan), ad-tazkiyatu (penyucian dan penghayatan diri), dan ad-takliyatu (pengamalan ilmu).


"Imu yang tidak diamalkan dan tidak membentuk akhlak hanya akan menjadi pengetahuan yang kosong," jelasnya.


Mengakhiri pemaparannya, ia mengutip ayat Al-Qur’an “Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama”, seraya menjelaskan bahwa ilmu sejati melahirkan khashyah, yaitu rasa takut yang dilandasi cinta dan penghormatan kepada Allah.


"Ukuran ilmu bukanlah gelar akademik, melainkan perilaku dan akhlak yang tercermin dalam

 kehidupan sehari-hari," pungkasnya.

×
Berita Terbaru Update