kpiiaihpancornews.com - Ketua YPP Al-Majidiyah NWDI Majidi TGH. Ilhamdi, QH., S. Pd. I. menyampaikan pesan mendalam kepada para santri Al-Majidiyah NWDI Majidi terkait pentingnya adab, keteladanan, dan profesionalitas dalam berdakwah.
Dalam arahannya, Ketua YPP Al-Majidiyah NWDI Majidi TGH. Ilhamdi, QH. menegaskan bahwa santri tidak hanya dituntut untuk menguasai materi, tetapi lebih dari itu harus mampu menampilkan keteladanan dalam sikap dan perilaku.
"Seorang santri tidak cukup hanya memahami dan menguasai materi yang akan disampaikan, melainkan harus mampu menghadirkan contoh nyata melalui akhlak, sikap, dan perilaku sehari-hari yang mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan," ucap TGH. Ilhamdi (01/03/2026).
Beliau mengawali pesannya dengan menekankan prinsip lisanul hal sebagaimana termaktub dalam kalam hikmah. Artinya: “Keteladanan lebih fasih daripada ucapan.”
"Materi yang disampaikan dalam dakwah memang penting. Namun, berada pada urutan kedua. Yang paling utama adalah bagaimana seorang santri mampu memperlihatkan akhlak, adab, serta kepribadian yang mencerminkan nilai-nilai Islam. Sebab, masyarakat terlebih dahulu menilai perilaku sebelum mendengar isi ceramah yang disampaikan," ungkapnya.
Ia menegaskan agar para santri selalu mengedepankan adab dalam setiap aktivitas dakwah, seperti sikap santun, rendah hati, dan penuh penghormatan harus menjadi fondasi utama sebelum menyampaikan ilmu. Dengan demikian, pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima oleh jamaah.
“Orang melihat perilaku kita terlebih dahulu, baru kemudian memperhatikan materi yang kita sampaikan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar santri tidak menyampaikan ilmu sekadar sebagai latihan atau formalitas. Dakwah harus dilakukan dengan kesungguhan dan tanggung jawab. Ilmu yang disampaikan harus benar-benar ilmu yang hakiki, disertai pemahaman yang matang dan niat yang tulus.
"Saya menegaskan agar santri tidak berdakwah sekadar formalitas, tetapi dengan kesungguhan dan tanggung jawab. Ilmu yang disampaikan harus benar, dipahami dengan baik, dan diniatkan secara tulus," tegasnya.
Terkait penggunaan humor dalam dakwah, ia memberikan arahan agar santri berhati-hati.
"Berguyon diperbolehkan untuk menghidupkan suasana. Namun, harus dilakukan secara proporsional dan oleh mereka yang memang memiliki kompetensi dalam menyampaikannya," katanya.
Namun demikian, beliau menegaskan bahwa prioritas utama tetap pada penyampaian ilmu dan hukum agama, serta menghindari singgungan yang dapat melukai perasaan jamaah. Dakwah harus menghadirkan kenyamanan dan kegembiraan, bukan ketegangan.
"Paling utama adalah penyampaian ilmu dan hukum agama secara bijak, tanpa menyinggung perasaan jamaah. Dakwah seharusnya membawa ketenangan dan kebahagiaan, bukan menimbulkan ketegangan," jelasnya.
Dalam hal teknis pelaksanaan, Ia juga menekankan pentingnya manajemen waktu. Beliau menyarankan agar durasi ceramah atau tausiyah tidak terlalu lama, dengan batas maksimal sekitar 30 menit. Umumnya, durasi 20 menit dinilai sudah cukup efektif.
"Ceramah janganterlalu lama, dengan durasi maksimal sekitar 30 menit, sementara 20 menit dinilai sudah efektif dan mencukupi," sebutnya.
Para santri diminta untuk peka terhadap kondisi jamaah. Jika terlihat ada jamaah yang mulai gelisah, mengubah posisi duduk, atau tampak tidak nyaman, maka penyampaian sebaiknya segera dipercepat. Beliau mengibaratkan penyampaian ilmu seperti air dalam gelas; jika terus ditambahkan tanpa batas, maka air tersebut akan meluap dan terbuang sia-sia.
kalian harus sensitif terhadap situasi jamaah. Ketika terlihat tanda-tanda kejenuhan atau ketidaknyamanan, penyampaian hendaknya segera disesuaikan atau dipersingkat," pintanya.
Melalui pesan ini, Ia berharap para santri Al-Majidiyah NWDI Majidi mampu menjadi da'i yang beradab, bijak, dan profesional. Dakwah bukan hanya soal kepiawaian berbicara, melainkan tentang keteladanan hidup yang mampu menyentuh hati dan memberi pengaruh nyata di tengah masyarakat.
"Saya berharap para santri Al-Majidiyah NWDI Majidi tumbuh menjadi dai yang santun, arif, dan berintegritas," pungkasnya. (RED)
