Notification

×

Iklan

Iklan

Penguatan Identitas Sasak: Dialog IAIH Pancor tegaskan Maulana Syaikh sebagai figur pemersatu Islam dan budaya

Sabtu, 15 November 2025 | November 15, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-20T07:59:31Z

 


kpiiaihpancornewscom – Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor menggelar dialog publik bertema “Islam, Kiyai Hamzanwadi dan Identitas Sasak” di Rupatama I Kantor Bupati Lombok Timur, yang menegaskan identitas Sasak berakar kuat pada keislaman serta menempatkan TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid atau Maulana Syaikh sebagai figur pemersatu Islam dan budaya, Sabtu, (15/11/2025).


Acara yang menghadirkan akademisi, sejarawan, perwakilan pemerintah daerah dan mahasiswa itu dibuka Kabid Pengkajian Masalah Strategis dan Penanganan Konflik, Agus Ilham Haliq, S.H., yang mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa.


“Jadilah pahlawan di bidang masing-masing, tetap jaga persatuan dan jangan terpecah belah, karena persatuan merupakan kekuatan bangsa ini,” ujarnya.


Ketua BEM IAIH Pancor, Saefullah, menekankan relevansi pemikiran Kiai Hamzanwadi sebagai pembaharu yang memadukan ajaran Islam dengan budaya Sasak sehingga membentuk masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kesadaran kebangsaan. Ia menyebut generasi muda kini berhadapan dengan “perang melawan lunturnya moral, hilangnya karakter, dan melemahnya identitas”.


Wakil Rektor III IAIH Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., mengajak peserta meneladani perjuangan dua Pahlawan Nasional asal NTB, yakni Maulana Syaikh dan Sultan Muhammad Salahuddin, sebagai pendorong penguatan identitas dan persatuan.


Pada sesi dialog utama, Abdul Hadi, Ph.D. Cand., memaparkan bahwa Maulana Syaikh merupakan sosok paling tepat dijadikan figur pemimpin masyarakat Sasak yang secara historis tidak mengenal pemimpin tunggal. Pandangan itu dikuatkan oleh Prof. Dr. H. Khirjan Nahdi, M.Hum., yang menilai perjuangan Maulana Syaikh bersifat holistik karena “memperjuangkan agama, bangsa dan negara dengan instrumen organisasi masyarakat”.


Prof. Khirjan juga mendorong peserta untuk tidak berhenti pada kebanggaan simbolik. “Kita begitu membanggakan Hamzanwadi, namun pertanyaannya, apa yang sudah kita perbuat?” katanya sembari meminta mahasiswa lebih aktif menulis tentang Maulana Syaikh agar kiprahnya dikenal luas.


Pemateri lainnya, Lalu Hariadi, MA.HK., menutup sesi dengan mengajak peserta meneladani pesan Maulana Syaikh untuk “berislam dengan baik dan benar”.


Dialog publik tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi penguatan pembangunan Lombok Timur, NTB, dan Indonesia melalui integrasi nilai perjuangan pahlawan, ajaran Islam yang mencerahkan dan identitas budaya Sasak yang berakar pada tradisi keislaman. (HA)

×
Berita Terbaru Update