Muh. Zunnurain
Mahasiswa KPI IAIH Pancor
kpiiaihpancornewscom - Tahun ini, Hultah NWDI ke-90 kembali digelar di tanah kelahirannya di Pancor Lombok Timur. Lembaga pendidikan yang didirikan oleh Almaghfurullah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada 17 Agustus 1936 dan baru diizinkan secara resmi oleh pemerintah kolonial Belanda pada 22 Agustus 1937 telah mencatat sejarah panjang dalam dunia pendidikan dan pergerakan Islam di Nusa Tenggara Barat.
Dalam perjalanannya, NWDI menjadi lembaga pendidikan pertama dengan sistem semi klasikal di NTB. Setiap momentum Hultah, ribuan alumni NWDI dari berbagai daerah berkumpul untuk mengenang sejarah, menguatkan silaturahmi, dan memperbarui komitmen perjuangan. Namun, perayaan ini bukan hanya tentang romantika masa lalu. Kehadirannya telah menjadi magnet ekonomi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
Puluhan hingga ratusan pedagang dari berbagai daerah biasanya mulai berdatangan lima hari sebelum acara puncak Hultah. Jalan-jalan sekitar Pancor berubah menjadi ruang ekonomi rakyat, seperti pedagang makanan, pakaian, perlengkapan santri, hingga penyedia jasa kos dan penginapan. Hal ini, menunjukkan bahwa Hultah bukan sekadar seremonial dakwah Islamiyah, tetapi juga ruang nyata bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Pesantren sebagai Episentrum Ekonomi
NWDI dan lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungannya tidak hanya berperan sebagai pusat transmisi ilmu agama, melainkan juga sebagai penggerak denyut ekonomi masyarakat. Kehadiran ribuan santri setiap tahun menciptakan ekosistem usaha yang hidup, seperti warung makan, pedagang lauk, kios kebutuhan pokok, penyedia jasa kos, hingga usaha kecil yang menghidupi banyak keluarga.
Sudah saatnya pesantren tidak hanya dilihat sebagai pusat ilmu, tetapi juga episentrum ekonomi. Pesantren bisa menjadi penggerak koperasi, UMKM, pelatihan kewirausahaan, pertanian, peternakan, hingga digitalisasi produk halal. Dengan begitu, pesantren bukan hanya melahirkan kader ulama, tetapi juga generasi santri yang mandiri secara ekonomi dan berdaya saing di era global.
Haul sebagai Momentum Pemberdayaan Ekonomi
Haul Maulana Syaikh tahun ini memasuki peringatan ke-28 sebagai ruang refleksi sekaligus aksi. Haul bukan sekadar mengenang kegigihan, keteladanan, dan konsistensi perjuangan beliau di bidang pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah. Haul seharusnya juga menjadi momentum untuk mengembangkan nilai-nilai perjuangan itu dalam bentuk pemberdayaan ekonomi umat.
Di era saat ini, perjuangan dakwah tidak bisa dilepaskan dari kemandirian ekonomi. Majelis Ekonomi yang dibentuk di lingkungan organisasi keagamaan dan pesantren harus dimaknai sebagai sarana sinergi umat untuk mengembangkan model ekonomi berbasis spiritualitas. Dengan demikian, perjuangan tidak lagi hanya berhenti pada pengajaran dan ceramah, tetapi menjelma dalam program nyata: koperasi santri, perdagangan syariah, hingga usaha mandiri yang berakar pada nilai keikhlasan dan gotong royong.
Sejalan dengan Program Kemandirian Pesantren
Upaya ini sejalan dengan program economic hub kemandirian pesantren yang diinisiasi pemerintah melalui Kementerian Agama sejak tahun 2021. Sejak awal, Tuan Guru dan para santri telah terbiasa mengelola pesantren dengan cara swadaya, berbasis wakaf, zakat, infak, dan usaha produktif masyarakat, bukan dengan mengandalkan dana dari luar. Pola inilah yang seharusnya diperkuat kembali agar pesantren tetap menjadi simbol kemandirian dan ketahanan ekonomi umat.
Dampak ekonomi pesantren bagi Indonesia sesungguhnya sangat signifikan. Pesantren telah membuka lapangan kerja, memberdayakan masyarakat sekitar, meningkatkan kesejahteraan, sekaligus mengembangkan ekonomi syariah yang lebih inklusif. Artinya, pesantren bukan hanya benteng moral, tetapi juga motor ekonomi yang konkret.
Menyatukan Spiritualitas dan Ekonomi
Hultah ke-90 NWDI dan Haul ke-28 Maulana Syaikh adalah ruang untuk menyatukan sejarah dan masa depan, zikir dan tindakan, spiritualitas dan ekonomi. Kebangkitan umat tidak bisa hanya diwujudkan di masjid atau pesantren, tetapi juga harus hadir di pasar, warung, dan ruang ekonomi masyarakat.
Dengan menjadikan ajaran dan perjuangan Maulana Syaikh sebagai fondasi, kita bisa membangun ekonomi umat yang berkah, berdaya, dan mandiri. Inilah makna hakiki dari peringatan besar NWDI: bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi merancang masa depan dengan menjadikan spiritualitas sebagai energi dan kemandirian ekonomi sebagai jalannya.
